Penjelasan Tentang Hukum Berdiri Pada Saat Mahallul Qiyam

Mahalul Qiyam – Apakah hukum berdiri pada saat membaca shalawat atau Maulid Nabi, yakni pada saat mahallul qiyam?

يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam kepadamu, Wahai Rasul salam kepadamu.

Berdiri pada saat memperingati Maulud Nabi SAW adalah “urus syar’i yang mana hukumnya adalah sunnah, sehingga pelaksanannya tidak berbeda-beda di semua tempat.

Misalkan berdiri pada saat membaca Maulud Nabi Muhammad SAW hukumnya membolehkan karena yang melakukan hal tersebut hanya sebagai bentuk rasa hormat terhadap Beliau Rasulullah SAW.

Tidak banyak ulama yang menerangkan tentang hukum tersebut, walaupun tidak ditemukan satupun yang mengatakan mahallul qiyam itu haram.

mahallul qiyam

www.beritaislami.org

Berdiri untuk menghormati sesuatu sesungguhnya telah menjadi sebuah tradisi kita. Bahkan untuk menghormati benda mati juga berdiri.

Contohnya, pada upacara bendera setiap hari senin dan 17 Agustus serta di waktu-waktu tertentu ketika sangsaka merah putih dinaikkan lalu kemudian diiringi dengan kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya maka seluruh pesertanya diwajibkan untuk berdiri.

Hal tersebut bertujuan untuk menghormati bendera merah putih dan secara tidak langsung juga menghormat jasa para pejuang yang telah memerdekakan Indonesia.

Demikian juga dengan berdirinya ketika membaca sholawat, hal tersebut merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi  Muhammad SAW sebagai hamba Allah yang paling mulia. Rasulullah SAW bersabda.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُذْرِيّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ: قُوْمُوْا إلَى سَيِّدِكُمْ أوْ خَيْرِكُمْ. رواه مسلم

Dari Abi Said Al-Khudri, beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda kepda para sahabat Ansor, “Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.” (HR Muslim).

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyatakan bahwa Imam Al-Barzanji di dalam kitab Maulid-nya yang berbentuk prosa menyatakan, ”Sebagian para imam hadits yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah Nabi Muhammad SAW. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Nabi dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya. (Al-Bayan wat Ta’rif fi Dzikral Maulid an-Nabawi, hal 29-30).

berdiri mahallul qiyam

gloobest.blogspot.com

Ketika membaca doa tahiyat akhir disetiap shalat, kita selalu mengucapkan:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

“assalamualika ayyuhan nabiy”, salam kepada Engkau wahai Nabi

Perhatikan benar-benar redaksinya, pada saat menyebut Nabi dalam shalat kita diharuskan menggunakan kata ganti كَ  atau kata ganti orang kedua atau dlamir mukhatab yang memiliki arti kamu atau anda.

Hal tersebut menyatakan bahwa, kita tidak menyebut Nabi dengan sebutan engkau. Sehingga pada saat berdoa seakan-akan Nabi Muhammad SAW hadir dihadapan kita.

Dari keterangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT pada tahiyat akhir tidak akan diterima tanpa menyebut Nama Muhammad SAW, tanpa menghadirkan beliau.

Oleh karena itu disetiap doa, setelah mengucapkan ”Alhamdulillah” segala puji bagi Allah, lalu kemudian diteruskan dengan membaca berbagai macam sholawat, barulah setelah lanjut pada inti dari doa kita yang akan dipanjatkan.

Makna pada saat berdoa menyembah Allah harus ada Mahluk Allah SWT yang paling mulia bernama Muhammad SAW. Oleh karena itu, kita sangat membutuhkan Rasulullah SAW pada saat kita memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.

Begitu pentingnya kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam setiap doa. Ambil contoh lagi pada tradisi warga pesantren pada saat mengadakan aqiqah atau acara syukuran untuk bayi yang baru dilahirkan.

Keluarga bayi yang menyelenggarakan aqiqah tidak akan mengeluarkan bayi sebelum pada momen mahalllul qiyam, pada saat-saat kita berdiri membaca:

يَا نَبِي سَلَامْ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ

Perhatikan pada kalimat yang dibaca ”Wahai Nabi salam kepadamu, Wahai Rasul salam kepadamu” seakan Nabi Muhammad hadir pada saat itu, hal tersebut adalah urgensi dari ajaran tawashul kepada Nabi atau memanjatkan doa dengan perantara Rasulullah SAW.

Video Mahallul Qiyam Oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assyegaf:

Demikianlah penjelasan tentang berdiri pada saat mahallul qiyam yang telah diajarkan oleh para ulama pendahulu kita.

Leave a Reply