Kumpulan Lengkap Contoh Tembang Macapat Beserta Penjelasan dan Pengertiannya

tembang macapat

Tembang Macapat merupakan sebuah tembang, nyanyian atau puisi tradisional budaya Jawa yang mana disetiap baitnya memiliki baris kalimat disebut dengan gatra.

Setiap gatra memiliki sejumlah suku kata tertentu dengan sebeut guru wilangan dengan akhiran pada bunyi sajak yang disebut guru lagu.

Sebenarnya tidak hanya kebudayaan Jawa saja yang memiliki tembang macapat, namun di daerah lain juga terdapat tembang macapat seperti Bali, Sasak Lombok, Madura, dan Sunda. Bahkan tembang macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin.

Secara umum tembang macapat diartikan dalam bahasa Jawa yakni dengan cara membagi menjadi dua suku kata yaitu “maca papat-papat”. Jika diartikan dalam bahasa indoesia ialah “membaca empat-empat”.

Maksud dari arti tersebut adalah cara membaca tembang macapat terjalin tiap empat suku kata. Namun ini hanya satu dari banyaknya arti, masih terdapat banyak arti dan penafsiran lain.

Karya kesustraan klasik Jawa dari jaman Mataram Baru umunya ditulis menggunakan metrum macapat yang mana merupakan sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran.

Karya-karya tersebut sebenarnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya seperti daftar isi saja.

Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat ialah Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.

Tembang macapat atau puisi tradisional jawa terdapat tiga bagian kategori:

  • Tembang Cilik
  • Tembangan Tengahan
  • Tembang Gedhe

Tembang macapat dikategorikan sebagai tembang cilik dan tembang tengahan, namun untuk tembang gede adalah untuk kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuno.

Jaman Mataram Baru penggunaannya tidak diterapkan perbedaan antara suku kata baik panjang atau pendek.

Di sisi lain tembang tengahan juga dapat merujuk pada kategori kidung yang merupakan puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.

Jika tembang macapat dibandingkan dengan kakawin terdapat perbedaan pada aturan-aturannya. Tembang macapat jauh lebih mudah digunakan dalam bahasa Jawa karena tembang kakawin yang didasari menggunakan bahasa Sansakerta.

Kakawin benar-benar sangat memperhatikan panjang pendek setiap suku kata, berbeda dengan tembang macapat yang mengabaikan panjang pendek suku katanya.

 

tembang macapat

sksejarahui.blogspot.com

Contents

Filosofi Tembang Macapat

Tembang macapat tersebut bila dirangkum secara keseluruhan sebenarnya bercerita tentang perjalanan hidup manusia. Filosofi ini menggambarkan bagaimana seorang manusia hidup sejak lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, dewasa dan pada akhirnya meninggal.

 

Watak Tembang macapat

Tembang macapat masing-masing arti dari tembang tersebut melambangkan watak atau karakter tersendiri. Mulai dari watak sedih atau duka, nasehat, percintaan, kasih sayang hingga kebahagiaan.

Watak dari tembang macapat pada umumnya digunakan sebagai acuan untuk pembuatan lirik lagu karena tembang macapat digunakan sebagai sebuah tembang yang berisi sebuah nasehat tentang kehidupan.

 

Asal-Usul Terbentuknya Tembang Macapat

asal usul tembang macapat

agrofarm.co.id

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa pada umumnya tembang macapat dapat diartikan dengan bahasa Jawa “maca papat-papat” diartikan dalam bahasa indonesia “membaca empat-empat”.

Namun hal tersebut merupakan satu-satu arti yang dimiliki oleh tembang macapat, diluar sana masih banyak sekali penafsiran-penafsiran lain yang menjelaskan dengan penafsiran yang berbeda.

Salah seorang pakar Sastra Jawa Prof. Dr. Bernard (Ben) Arps atau lebih dikenal Bernard Arps yang mana seorang pakar Budaya, Bahasa dan Sastra Jawa yang lahir di Leiden Belanda ini menjelaskan dalam bukunya Tembang in Two Traditions.

Selain penjelasan diatas arti lain dari tembang macapat adalah bahwa kata “pat” tersebut merujuk pada jumlah tanda diaktritis atau sandangan dalam aksara Jawa yang sangat relevansi sekali dalam penembangan macapat.

Menurut  penafsiran Ranggawarsita yang dijelaskan dalam Serat Mardawalagu, macapat adalah sebuah singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang memiliki arti “melagukan nada keempat”. Karena selain maca-pat-lagu terdapat juga maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan yang terakhir maca-tri-lagu.

Maca-sa

Menurut sejarahnya maca-sa merupakan kategori tembang tertua yang diciptaka oleh para Dewa yang diturunkan langsung kepada Pandita Walmiki lalu diperbanyak oleh Sang Pujangga istana berasal dari kediri ialah bernama Yogiswara. Maca-sa dikategorikan di era sekarang ini sebagai sebutan dengan nama tembang gedhe.

Maca-ro

Maca-ro juga termasuk dalam kategori tembang gedhe dimana jumlah tiap bait per pupuh dapat berkurang dari empat empat namun jumlah suku kata disetiap baitnya tidak harus sama. Maca-ro juga diciptakan oleh seorang pujangga istana yang memperbanyak maca-sa ialah Yogiswara.

Maca-tri

Maca-tri merupakan tembang kategori ketiga adalah tembang tengahan yang katanya diciptakan oleh Resi Wiratmaka seorang Pandita Istana janggala dan lalu disempurkan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan salah seorang saudaranya.

Maca-tri yang telah disempurnakan tersebut nantinya merupakan cikal bakal dari macapat dan tembang cilik yang diciptakan oleh Sunan Bonang kemudian diturunkan kepada semua wali.

 

Sejarah Tembang Macapat

sejarah tembang macapat

indocropcircles.wordpress.com

Secara umum awal munculnya tembang macapat pada masa Majapahit dan ketika Walisanga mulai berperan mempengaruhi Jawa. Namun jika berpanutan dengan hal tersebut hanya dapat dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Tembang macapat yang lahir di Jawa Timur dan Bali sudah dikenal sebelum datangnya Islam di Pulau Jawa.

Sebagai buktinya ialah terdapat sebuah teks dari Bali dan Jawa Timur yang terkenal dengan judul Kidiung Ranggalawe. Kidung tersebut dikakatan telah selesai ditulis pada tahun 1334 masehi.

Namun disisi lain tarikh tersebut telah disangsikan dikarenakan karya lebih dikenal versi mutakhirnya dan semua naskah yang memuat teks tersebut merupakan berasal dari bali.

Sedangkan mengenai usia tembang macapat sendiri, terutama hubunganya dengan kakawin manakah yang lebih dulu? Terbagi dua pendapat yang berbeda.

Menurut Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat merupakan turunan dari kakawin yang mana berasal dari turunan tembang gede sebagai perantaranya. Pendapat ini disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder.

Menurut kedua ahli tersebut mengatakan bahwa macapat adalah sebagai metrum puisi asli Jawa yang mana usianya jauh lebih tua dari kakawin. Sehingga macapat barulah muncul setelah pengaruh India yang semakin pudar.

 

Struktur Tembang Macapat

struktur tembang macapat

tembi.net

Sebuah karya sastra macapat biasanya terbagi menjadi beberapa pupuh, namun disetiap pupuhnya terbagi lagi menjadi beberapa bagian dan pada bagian tersebut ada setiap pupuh yang menggunakan metrum sama. Metrum tersebut biasanya tergantung pada watak isi teks yang diceritakan

Jumlah pada per pupuh memiliki perbedaan tergantung jumlah teks yang digunakan. Setiap teks dibagi lagi menjadi larik atau gatra.

Setiap larik atau gatra tersebut dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda. Maka, disetiap gatra mempunyai jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama juga.

Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata tersebut diberi nama dengan sebutan guru wilangan. Namun aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu.

 

Jenis Metrum Macapat

Jumlah metrum baku macapat terdapat 15 buah, kemudian metrum-metrum tersebut dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tembang cilik, tembang tengahan, dan tembang gedhe.

Tembang cilik terdapat sembilan metrum, tembang tengahan terdapat enam metrum, sedangkan tembang gede hanya mempunyai satu metrum.

Terdapat beberapa jenis tembang macapat. Masing jenis tembang mempunyai aturan berupa guru lagu dan guru wilangan yang masing-masing mempunya aturan berbeda-beda.

Agar mempermudah membedakan antara guru gatra, guru wilangan dan guru lagu dari tembang-tembang macapat. Oleh karena itu disetiap metrum ditata dalam sebuah tabel, berikut dibawah ini penjelasan tentang struktrur pengertian Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan.

Tabel Tembang Macapat

Tabel Tembang Macapat

wikipedia.org

 

Jika diringkas pengertian tabel diatas adalah sebagai berikut:

  • Guru Gatra adalah banyaknya jumlah larik atau baris kata dalam satu bait.
  • Guru Lagu adalah persamaan dari bunyi sajak pada akhir kata disetiap larik atau baris.
  • Guru Wilangan adalah banyaknya jumlah wanda atau suku kata dalam setiap larik baris.

Dengan adanya aturan berupa Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan maka tembang macapat dibedakan menjadi 11 jenis tembang.

 

Contoh dan Cara Penggunaan Metrum Tembang Macapat

Tembang Macapat Pocung

tembang macapat pocung

plus.google.com

Pucung merupakan salah satu dari 12 puisi jawa tembang macapat yang paling sederhana. Pucung biasanya disebut juga dengan pocung.

Pucung adalah tetembangan yang digunakan untuk mengingat akan kematian, karena mirip dengan kata pocong yang memiliki arti sebagai pembungkus mayat akan dikubur.

Pucung juga memiliki arti woh-wohan atau dalam bahasa Indonesianya adalah buah-buahan yang memberi kesegaran. Kata cung sendiri ialan mengingatkan pada kuncung yang lucu, sehingga perkembangan dari tembang ini merujuk pada seseuatu yang lucu, parikan atau badhekan (tebak-tebakan).

Watak Tembang Macapat Pocung

Pocung sendiri memiliki watak kendur yang tidak mempunyai tujuan dan tidak adanya klimaks dalam cerita.

Aturan Tembang Macapat Pocung

Dalam pembuatan tembang pocung tidak boleh mengasal, karena pocung mempunyai aturan. Berikut dibawah ini aturan tembang pocung:

Guru Gatra = 4
Artinya tembang tersebut mempunyai 4 larik kalimat

Guru Wilangan = 12, 6, 8, 12
Artinya tiap kalimat harus mempunyai suku kata seperti diatas. Jadi, Kalimat pertama 12 suku kata, kalimat kedua bersuku kata 6, kalimat ketiga 8 suku kata, dan kalimat keempat terdapat 12 suku kata.

Guru Lagu = u, a, i, a
Artinya akhir setiap suku kata tersebut harus mempunyai huruf vokal u, a, i, a

Contoh Tembang Macapat Pocung (12u-6a-8i-12a)

Ngelmu iku kalakone kanthi laku
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)

Angkara gung neng angga anggung gumulung
(Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora)
Gegolonganira
(Menyatu dengan diri sendiri)
Triloka lekeri kongsi
(Menjangkau hingga tiga dunia)
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana)

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)

Taman limut durgameng tyas kang weh limput
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)

Yeku patut tinulat tulat tinurut
(Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan patut diikuti)
Sapituduhira
(Sebagai nasehatku)
Aja kaya jaman mangkin
(Jangan seperti zaman nanti)
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna
(Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti)

Durung becus kesusu selak besus
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)

Tembang Macapat Gambuh

tembang macapat gambuh

lukihermanto.com

Tembang macapat gambuh adalah salah satu tembang yang mengajarkan tentang berbagai macam ajaran kepada generasi muda, terkhusus iala tentang mengenai bagaiman cara menjalin hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya.

Banyak juga yang menafsirkan bahwa kata gaambuh memiliki arti sebuah kecocokan, sepaham dan sikap kebijaksaan. Sikap bijaksana tersebtu memiliki arti bahwa dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai takarannya, dan dapat bersikap adil.

Nasihat-nasihat tentang betapa pentingnya membangun rasa persaudaraan, toleransi dan kebersaman sebagai mahluk sosial banyak tergambar dari tembang-tembang macapat gambuh.

Watak Tembang Macapat Gambuh

Watak dan karakter tembang macapat gambuh adalah biasa atau digunakan dalam suasana tidak ragu-ragu dan yakin. Tentang keramah tamahan dan persahabatan. Tembang juga biasa digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Aturan Tembang Macapat Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Guru Gatra = 5
Artinya tembang Gambuh tersebut terdapat 5 larik atau baris kalimat).
Guru wilangan: 7, 10, 12, 8, 8
Artinya pada baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua berisi 10 suku kata, dan begitu seterusnya.
Guru lagu: u, u, i, u, o
Artinya baris pertama berakhir dengan vokal u, baris kedua berakhir vokal u, dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Gambuh

Sekar gambuh ping catur,
(Tembang gambuh keempat)
Kang cinatur polah kang kalantur,
(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)
Tanpa tutur katula-tula katali,
(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)
Kadaluwarsa kapatuh,
(Terlanjur menjadi kebiasaan)
Kapatuh pan dadi awon.
(Kebiasaan bisa berakibat buruk)

Aja nganti kabanjur,
(Jangan sampai terlanjur)
Barang polah ingkang nora jujur,
(Bertingkah polah yang tidak jujur)
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
(Jika telanjur tentu akan celaka dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku,
(Lebih baik berusahalah)
Pitutur ingkang sayektos.
([menngikuti] ajaran yang sejati)

Tutur bener puniku,
(Ucapan yang benar itu)
Sayektine apantes tiniru,
(Sejatnya pantas untuk diikuti)
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
(Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya)
Lamun becik nggone muruk,
(Jika baik dalam mengajarkan)
Iku pantes sira anggo.
(Itu pantas kau pakai)

Ana pocapanipun,
(Ada sebuah ungkapan)
Adiguna adigang adigung,
(Adiguna, adigang, adigung)
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
(Seperti Adigang-nya kijang, adigung-nya gajah)
Adiguna ula iku,
(Adiguna-nya ular)
Telu pisan mati sampyoh.
(Ketiganya mati bersama dengan sia-sia)

Si kidang ambegipun,
(Si kijang memiliki watak)
Angandelaken kebat lumpatipun,
(Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari)
Pan si gajah angandelken gung ainggil
(Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar)
Ula ngandelaken iku,
(Ular menyombongkan)
Mandine kalamun nyakot.
(Keampuhannya dengan menggigit)

Iku upamanipun,
(Itu sebuah perumpamaan)
Aja ngandelaken sira iku,
(Jangan menyombongkan diri)
Suteng nata iya sapa kumawani,
(Seorang raja siapa yang berani)
Iku ambeke wong digang,
(Itu perilaku yang adigang)
Ing wasana dadi asor.
(Yang akhirnya bisa merendahkan)

Adiguna puniku,
(Watak adiguna adalah)
Ngandelaken kapinteranipun,
(Menyombongakan kepandaiannya)
Samubarang kabisan dipundheweki,
(Seolah semua bisa dilakukan sendiri)
Sapa bisa kaya ingsun,
(Siapa yang bisa seperti aku)
Togging prana nora enjoh.
(ujung-ujungnya tak bisa apa-apa)

Ambek adigung iku,
(Watak orang adigung adalah)
Angungasaken ing kasuranipun,
(Menyombongkan keperkasaannya)
Para tantang candhala anyenyampahi,
(Semua ditantang berkelahi dan disepelekan)
Tinemenan nora pecus,
(Jika benar dihadapi, ia tak berdaya)
Satemah dadi geguyon.
(Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan)

Ing wong urip puniku
(Dalam kehidupan manusia)
Aja nganggo ambek kang tetelu,
(Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi)
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
(Milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati)
Den kawangwang barang laku,
(Selalu introspeksi pada tingkah laku)
Kang waskitha solahing wong.
(Pandailah membaca perilaku orang lain)

Tembang Macapat Pangkur

tembang macapat pangkur

mataairradio.com

Pangkur sendiri memiliki arti berari mungkur jika diartikan dalam bahasa indonesia adalah mundur atau mengundurkan diri. Merupakan sebuah gambaran manusia yang memiliki fase dimana akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spritual.

Pangkur atau mangkur juga memiliki arti menyingkir yang ditafsirkan adalah menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa.

Menyingkirkan nafsu angkara murka dunia, dibuthkan riyadhah atau upaya yang bersungguh-sunguh dan khususnya di bulan Ramadhan, ketika itu harus benar-benar memaksimalkan ibadah agar dapat meminimalisir dan mereduksi nafsu-nafsu angkara yang telah menggerogoti dinding kalbu kita.

Watak Tembang Pangkur

Watak tembang macapat pangkur banyak sekali digunakan pada tembang-tembang pertemanan, cinta, pitutur atau nasihat. Baik rasa cinta kepada anak, pasangan hidup, alam semesta dan Tuhan.

Banyak orang yang memberi makna tembang macapat pangkur merupakan sebagai salah satu tembang yang mengisahkan tentang seseorang telah menginjak usia tua.

Dimana orang tersebut mulai mungkur atau mengundurkan diri dari hal-hal duniawi, sehingga sangat banyak tembang-tembang macapat pangkur yang berisi tentang nasihat untuk generasi muda.

Aturan Tembang Macapat Pangkur

Guru Gatra: 8
Artinya tembang Pangkur ini terdapat 8 larik atau baris kalimat.
Guru Wilangan: 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8
Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 11 suku kata, dan begitu seterusnya.
Guru Lagu: a, i, u, a, u, a, i
Artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Pangkur (8a-11i-8u-7a-12u-8a-8i)
Mingkar-mingkuring ukara
(Membolak-balikkan kata)
Akarana karenan mardi siwi
(Karena hendak mendidik anak)
Sinawung resmining kidung
(Tersirat dalam indahnya tembang)
Sinuba sinukarta
(Dihias penuh warna )
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(Agar menjiwai hakekat ilmu luhur)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang ada di tanah Jawa/nusantara)
Agama ageming aji.
(Agama “pakaian” diri)

Tembang macapat pangkur ditafsirkan bahwa, harus memilih kata-kata yang bijak untuk mendidik anak. Dimulai dari cara bertutur kata orang tua harus dapat menjadi contoh yang baik, karena dengan kata-kata yang baik tentunya akan lebih nyaman juga untuk didengarkan.

Mendidik dapat melalui media tembang yang dirangkai indah agar menarik si anak untuk mengikuti ajaran yang baik. Sehingga semua nasihat-nasihat tentang ilmu leluhur yang ada di Jawa bisa diterapkan dan agama dapat dijadikan salah satu ajaran dalam kehidupan.

Didalam serat Wedhatama pupuh I ini, KGPAA Mangkunegoro IV memberikan sebuah gambaran betapa pentingya manusia agar selalu belajar bisa menguasai ilmu luhur. Maksud dari pernyataan tersebut adalah dengan ilmu luhur konteks kekiniian yang tentu cerdas secara intelektual, cerdas secara emosi dan spritual.

Cerdas secara intelektual yang berarti pandai untuk menggunakan logika-logika, sedangkan untuk cerdas secara emosi dan spiritual berarti dapat mengelola emosi, sikap, mampu membawa diri dan mempunyai kesadaran yang tinggi degnan lingkungan dan tuhan.

Tembang macapat pangkur diatas merupakan hanya tembang pembuka dalam serat Wedhatama Pupuh I Pangkur. Disetiap bait-bait tembang berikutnya KGPAA mangkunegoro IV dengan jelas memberi gambaran tentang perbedaan orang yang berilmu luhur beserta orang yang kurang ilmu.

Jinejer ing Wedhatama
(Tersaji dalam serat Wedhatama)
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
(Agar jangan miskin budi pekerti)
Mangka nadyan tuwa pikun
(Padahal meskipun tua dan pikun)
Yen tan mikani rasa
(bila tak memahami rasa)
Yekti sepi sepa lir sepah asamun
(Tentu sangat kosong dan hambar seperti ampas buangan)
Samasane pakumpulan
(Ketika dalam pergaulan)
Gonyak-ganyuk nglelingsemi.
(Terlihat bodoh memalukan)

Nggugu karsane priyangga,
(Menuruti kemauan sendiri)
Nora nganggo peparah lamun angling,
(Tanpa tujuan jika berbicara)
Lumuh ingaran balilu
(Tak mau dikatakan bodoh)
Uger guru aleman,
(Seolah pandai agar dipuji)
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
(Namun manusia yang telah mengetahui akan gelagatnya)
Sinamun samudana,
(Malah merendahkan diri)
Sesadoning adu manis.
(Menanggapi semuanya dengan baik)

Si pengung nora nglegewa,
(Si bodoh tak menyadari)
Sangsayarda denira cacariwis,
(Semakin menjadi dalam membual)
Ngandhar-andhar angendukur,
(bicaranya ngelantur kesana-kemari)
Kandhane nora kaprah,
(Ucapannya salah kaprah)
Saya elok alangka longkangipun,
(Semakin sombong bicara tanpa jeda)
Si wasis waskitha ngalah,
(Si bijak mengalah)
Ngalingi marang sipingging.
(Menutupi ulah si bodoh)

Mangkono ilmu kang nyata,
(Begitulah ilmu yang benar)
Sanyatane mung we reseping ati,
(Sejatinya hanya untuk menentramkan hati)
Bungah ingaran cubluk,
(Senang jika dianggap bodoh)
Sukeng tyas yen den ina,
(Bahagia dihati bila dihina)
Nora kaya si punggung anggung gumunggung,
(Tak seperti Si bodoh yang haus pujian)
Ugungan sadina dina,
(Ingin dipuji tiap hari)
Aja mangkono wong urip.
(Jangan seperti itu manusia hidup)

Uripe sapisan rusak,
(Hidup sekali rusak)
Nora mulur nalare ting saluwir,
(Tidak berkembang akalnya berantakan)
Kadi ta guwa kang sirung,
(Seperti gua gelap yang angker)
Sinerang ing maruta,
(Diterjang angin)
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
(Bergemuruh bergema tanpa makna)
Pindha padhane si mudha,
(Seperti itulah anak muda kurang ilmu)
Prandene paksa kumaki.
(Namun sangat angkuh)

 

Tembang Macapat Sinom

tembang macapat sinom

soundvision.com

Kata sinom yang memiliki arti pucuk yang baru bersemi dan tumbuh. Tembang sinom sendiri memiliki filosofi yang menggambarkan seorang manusia tengah beranjak dewasa dan menjadi seorang pemuda atau remaja yang sedang bersemi.

Saat menjadi dewasa seorang remaja, memiliki tugas wajib ialah untuk menuntut ilmu sebaik mungkin agar dapat menjadi bekal kehidupannya kelak dimasa depan.

Tembang macapat sinom mengkisahkan tahapan manusia pada puberitas. Masa tersebut merupakan masa ketika seorang anak akan mengalami perubahan fisik, psikis dan pematangan dari fungsi seksual.
Masa puberitas pada kehidupan biasanya dimulai ketika berumur delapan sampai sepuluh tahun dan berakhir kurang lebih di usia 15 sampai 16 tahun.

Hal tersebut yang dimaksud dengan pengertian puber atau pengertian pebuertias. Dalam bentuk perubahan psikologis anak pada masa puber berusaha mencari jati diri untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang sangat besar.

Dalam proses mencari jati diri, seringya remaja menentang kemapanan karena merasa hal tersebut membelenggu kebebasannya. Mereka tidak ingin disebut sebagai anak-anak lagi.

Hal yang sangat umum terjadi dalam puberitas adalah ketertarikannya terhadap lawan jenis. Timbulnya rasa tersebut biasanya disebut dengan sebutan “cinta monyet” ialah hubungan asmara yang bersifat sementara dan tidak bertahan lama serta cepat menghilang.

Watak Tembang Macapat Sinom

Watak atau karakter yang terdapat dalam tembang sinom adalah tentang kesabaran dan juga keramahtahamahan. Tembang tersebut juga dapat digunakan sebagai bahan untuk menceritakan sebuah nasehat yang baik dan mengandung rasa persahabatan.

Aturan Tembang Macapat Sinom

Guru Gatra = 9
Artinya mempunyai 9 larik atau kalimat.
Guru Wilangan = 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12
Artinya pada baris pertama terdapat 8 suku kata, baris kedua terdapat 8 suku kata, dan begitu seterusnya.
Guru Lagu = a, i, a, i, i, u, a, i, a
Artinya pada baris pertama memiliki akhiran dengan vokal a, baris kedua berakhir huruf vokal i, dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Sinom (8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a)
Sinom Gadhung Melati (karya KGPAA Mangkunegoro ke IV)
Nulada laku utama
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesami
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)

Tembang Macapat Kinanthi

Tembang Macapat Kinanthi

sheknows.com

Kinanthi berasal dari kata kanthi atau tuntunan. Seorang anak yang tumbuh dan berkembang membutuhkan tuntunan dari orang dewasa.

Mereka tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja, oleh karena itu mereka membutuhkan bimbingan atau tuntunan baik dari orang dewasa maupun orang tua yang memiliki pengalamn dan pengetahuan lebih.
Menurut pendapat John Locke dalam teori “Tabula Rasa” (bahasa latin) yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah kertas kosong.

Memiliki pandangan bahwa seroang manusia lahir bagaikan kertas putih kosong tidak mempunyai mental bawaan. Pembentuk kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan yang diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsinya alata indera terhadap dunia diluar dari dirinya sendiri.

Meskipun tidak semuanya benar, dengan rujukan teori tersebut maka seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan bimbingan supaya kelak nanti menjadi manusia dewasa yang dapat dibanggakan. Anak-anak harus mempunyai pendidikan tinggi agar memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang cukup.

Anak-anak perlu diberi pelatihan agar kelak nanti mempunyai keterampilan untuk menjadi kreatif dan mandiri dan sangat penting anak-anak harus diajarkan keimanan serta ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut harus melalui bimbingan dari kinanthi atau orang dewasa/orang tua.

Aturan Tembang Macapat Kinanthi

Guru gatra = 6
Artinya terdapat 6 larik atau baris kalimat
Guru Wilangan = 8 , 8, 8, 8, 8, 8
Artinya pada baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua terdiri dari 8 suku kata, dan begitu seterusnya.
Guru lagu = u, i, a, i, a, i
Artinya baris pertama memiliki akhiran dengan huruf vokal u, baris kedua berakhir dengan huruf vokal i dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Anoman malumpat sampun (8u)
Prapteng witing nagasari (8i)
Mulat mangandhap katingal (8a)
Wanodya yu kuru aking (8i)
Gelung rusak wor lan kisma (8a)
Kang iga-iga kaeksi (8i)

Kagyat risang kapirangu
Rinangkul kinempi-kempit
Duh sang retnaning bawana
Ya ki tukang walang ati
Ya ki tukang ngenes ing tyas
Ya ki tukang kudu gering

Tembang Macapat Dhandhanggula

Tembang Macapat Dhandhanggula

bulukumbakab.go.id

Tembang macapat dhangdanggula mempunyai arti harapan yang indah, kata dhangdanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang mempunyai arti bercita-cita, angan-angan atau harapan dan dari kata gula yang memiliki makna manis, indah atau bahagia.

Tidak hanya memiliki arti harapan yang indah saja, namun banyak kalangan juga yang menafsirkan dhangdanggula berasal dari kata dhangdang yang berarti burung gagak sebagai lambang duka, serta berasal dari kata gula yang terasa manis sebagai lamban kesukaan.

Kebahagiaan yang dapat tercapai setelah sebuah pasangan bisa melampaui proses suka duka dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-citanya, seperti cukup sandang, papan dan pangan. Seperti seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan bisa diibaratkan lagunya dandanggula.

Watak Tembang Macapat Dhangdanggula

Watak dan karakter yang terdapat pada tembang dhangdanggula tersebut memiliki sifat universal atau luwes dan merasuk ke hati. Sehingga, tembang dhangdanggula dapat digunakan untuk menuturkan kisah dalam bermacam-macam hal dan dalam kondisi apapun.

Gambaran tentang kehidupan yang mencapai tahap kemapanan sosial, kesejehateraan, cukup sandang, papan dan pangan, karena pada dasarnya “Keinginan adalah sumber penderitaan”.
Kunci hidup bahagia adalah rasa syukur ialah dengan selalu mengedepankan bersyukur atas rezeki yang telah Allah SWT anugerahkan.

Aturan Tembang Macapat Dhangdanggula

Guru Gatra = 10
Artinya tembang dhangdanggula terdapat 10 larik atau baris dan kalimat.
Guru Wilangan = 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7
Artinya baris pertama terdiri dari 10 suk kata, baris kedua terdapat 10 suk kata, dan begitu seterusnya.
Guru Lagu = i, a, e, u, i, a , u, a, i, a
Artinya pada baris pertama berakhiran dengan huruf vokal i, baris kedua berakhir dengan huruf vokal a, dan begitu seterusnya.
Contoh Tembang Macapat Dhangdanggula (10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a)

Lamun sira ameguru kaki
(Jika engkau meminta nasehat dariku)
Amiliha manungsa sanyata
(Pilihlah manusia sejati)
Ingkang becik martabate
(Yang baik martabatnya)
Sarta weruh ing ukum
(Serta mengenal hukum)
Kang ibadah lan kang wirangi
(Yang taat beribadah dan menjalankan ajaran agama)
Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul
(Apalagi mendapat orang suka perihatin yang sudah mumpuni)
Tan gumantung liyan
(Yang tak tergantung orang lain)
Iku wajib guronana kaki
(Kepadanyalah engkau wajib berguru)
Sartane kawruhanana
(Serta belajar padanya)

 

Tembang Macapat Asmaradana

Tembang Macapat Asmaradana

seribusatukisahislami.blogspot.com

Asmaradana bermakna asmara dan dahana yang memiliki api asmara. Tembang tersebut menggambarkan masa-masa dirundung asmara, dimabuk, cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih.

Asmara mempunyai arti cinta dan cinta merupakan sebuah ketulusan hati, meminjam istilahnya salah seorang penyanyi Pop Balad Ebiet G.Ade dalam sebuah lirik lagunya “Cinta yang kuberi setulus hatiku entah apa yang kuterima aku tak peduli”.

Cinta merupakan anugerah terindah dari Pangeran Gusti Allah dan hal tersebut adalah sebuah bukti keagungannya. “Waja’alna Bainakum Mawwaddah Wa Rahmah, Inna Fi Dzaalika La’aayatil Liqoumi Yatafakkaruun”. Artinya “…Dan Kujadikan diantara kalian Cinta dan Kasih Sayang, sesungguhnya didalamnya merupakan tanda-tanda (Ke-Agungan-Ku) bagi kaum yang berfikir”.

Watak Tembang Macapat Asmaranda

Tembang asmaradana mempunyai watak dan karakter yang menggambarkan tentang kisah kasih cinta, asmara, rasa pilu atau sedih dan juga tentang perasaan-perasaan hati.

Guru Gatra = 7
Artinya terdapat 9 lari atau baris dan kalimat

Guru Wilangan = 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8
Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata dan begitu seterusnya.

Guru Lagu = a, i, e , a, a, u, a
Artinya baris pertama memiliki akhiran dengan huruf vokal a, baris kedua berakhiran huruf vokal i dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang macapat Asmaradana (8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a)

Gegaraning wong akrami
(penguat dalam pernikahan)
Dudu bandha dudu rupa
(bukan harta atau fisik)
Amung ati pawitané
(tetapi hatilah modal utamanya)
Luput pisan kena pisan
(sekali jadi, jadi selamanya)
Lamun gampang luwih gampang
(jika mudah, semakin gampang)
Lamun angèl, angèl kalangkung
(jika sulit, sulitnya bukan main)
Tan kena tinumbas arta
(tak bisa ditebus dengan harta)

Aja turu soré kaki
(jangan tidur terlalu awal)
Ana Déwa nganglang jagad
(ada dewa yang mengelilingi alam raya)
Nyangking bokor kencanané
(menenteng bokor emasnya)
Isine donga tetulak
(yang berisi doa penolak bala)
Sandhang kelawan pangan
(sandang dan pangan)
Yaiku bagéyanipun
(yaitu bagian untuk)
wong melek sabar narima
(orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)

 

Tembang Macapat Mijil

Tembang Macapat Mijil

momendeavors.com

Tembang macapat mijil menceritakan tentang awal mula hadirnya manusia di dunia ini yang mana merupakan lahirnya seorang anak terlahir dari gua garba Ibu.

Istilah lain mijil dalam bahasa Jawa adalah mijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang memiliki arti keluar.
Macapat mijil merupakan tembang kedua setelah Maskumambang. Tembang macapat maskumambang sendiri mempunya makna janin atau jabang bayi yang masih didalam kandungan ibunya.

Kelahiran merupakan proses dimana seorang sedang memperjuangkan dua nyawa sekaligus dalam satu waktu, yakni antara dirinya sendiri dan anaknnya sedang dalam proses kelahiran.

Bagaimanapun beratnya proses tersebut, didalamnya tertanam cinta dan harapan dari seluruh anggota keluarga, harap-harap cemas namun bahagia ketika menanti si jabang bayi lahir.

Jabang bayi yang mijil dari rahim ibunya adalah sebuah kesucian, dia tidak dapat memilih lahir dari siapa. Seperti dijaman edan seperti sekarang ini banyak sekali bayi terlahir dari hubungan diluar pernikahan.

Namun tetap bayi tersebut adalah suci, banyak orang mengatakan bahwa bayi yang lahir diluar pernikahan adalah anak haram, persepsi tersebut adalah salah besar apapun yang terjadi bayi baru lahir adalah suci yang haram itu orang tua mereka yang tidak menikah.

Saat bayi pertama kali lahir baru mengenal dunia pertama kali, ia diberikan wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan agar dapat menjadi manusia hingga nanti suatu saat pasti kembali kepada-Nya dengan damai.

Watak Tembang Macapat Mijil

Tembang macapat mijil merupakan tentang welas asih, pengharapan, laku prihatin dan tentang cinta. Tembang macapat mijil banyak sekali digunakan untuk media sebagai pemberi nasihat, cerita cinta, dan ajaran kepada manusia untuk selalu kuat serta tabah menjalani hidup.

Gambaran tentang perasaan kesedihan maupun kebahagiaan tersebut tercermin dari tembang-tembang macapat mijil.

Aturan Tembang Macapat Mijil

Guru Gatra = 6
Artinya tembang mijil tersebut mempunyai 6 larik atau baris kalimat
Guru Wilangan = 10, 6, 10, 10, 6, 6
Artinya dibaris pertama terdiri dari 10 suku kata, baris kedua berisi 6 suku kata dan begitu seterusnya.
Guru lagu = i, o, e, i, i,u
Artinya baris pertama berakhiran dengan huruf vokal i, baris kedua berakhiran huruf vokal o, dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Poma kaki dipun eling (10i)
Ing pitutur ingong (6o)
Sira uga satriya arane (10e)
Kudu anteng jatmika ing budi (10i)
Ruruh sarta wasis (6i)
Samubarangipun (6o)

Tembang mijil tersebut dalam beberapa referensi banyak digunakan sebagai metode untuk metode dakwah islam. Banyak referensi menyebutkan bahwa Mijil merupakan karya dari Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus, sedangkan referensi lainnya mengatakan Mijil digunakan oleh Sunan Gunung Jati melakukan Dakwah.

Sedikit gambaran, bahwa menurut para pakar tafsir sastra Jawa, tembang macapat tersebut merupakan sebuah urutan perjalanan seseorang dari lahir hingga meninggal. Mijil merupakan yang peramta, secara harfiahnya berarti muncul atau tampil, ditafsirkan sebagai buah kelahiran.

Dijelaskan bahwa hal tersebut merupakan kelahiran fisik bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsikran sebuah kelahiran ketika orang mulai mempunyai keinginan menjadi baik, dikatakan sebuah kelahiran kembali.

Menurut Bapak Susianto salah seorang narasumber, Temban Macapat Mijil tersebut mempunyai seperangkat tata nilai dan etika yang digunakan dalam konteks masyarakat Jawa. Salah satu syair yang terkenal adalah sebagai berikut:

Dedalane guno lawan sekti
kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
ono catur mungkur

Makna moral yang disampaikan dalam bait lagu tersebut diatas, menurut narasumber ialah sebagai berikut, sebagai studi karakteristik Jawa, adalah sebagai berikut:

1. Dedalane guno lawan sekti

Dibuka dengan sebuah kalimat yang mengabarkan tentang jalan agar seseorang dapat menjadi bermanfaat sakti.

Pemaknaan tersebut merupakan sebuah pengingat kita semua sebagai seorang manusia, yang mana bahwa tujuan hidup dapat dilihat dari perspektif yaitu dengan mempersiapkan bekal setelah mati dan melakukan sesuatu agar kesempata hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang memiliki makna dan bermanfaat bagi mahluk hidup lainnya.

Sakti bisa juga ditafsirkan tentang sebuha gambara pengetahuan dan keterampilan seseorang. Bait tersebut dapat diterjemahkan secara jalan hidup agar bermanfaat di dunia dengan mempunyai kapasitas dengan apa yang kita miliki.

Seorang muslim wajib mempunyai ilmu karena hal tersebut merupakan sebagian dari ibadah kepada Allah SWT. Karena iman saja tanpa ilmu tidak berguna, oleh karena itu harus beriman dulu lalu selanjutnya adalah menjalankanya dalam bentuk mengamalkan.

2. Kudu Andhap Asor

Kudu andhap asor artinya ialah harus dapat menempatkan diri sehingga kita dapat selalu menghargai orang lain. Andhap ashor artinya dibawah bukan berarti dilihat kita sebagai dibawah, namun dilihat kita sebagai menempatkan orang lain selalu lebih tinggi dari kita, selalu kita hargai, selalu kita hormat, tidak peduli apakah dia pejabat atau bukan pejabat, orang pandai atau tidak, kita tetap harus menghargainya sebagai sesama mahluk hidup.

Kalimat tersebut menjadi bait kedua setelah kalimat pembuka. Seolah-olah memberi penekanan mengenai awal pertama kali seseorang harus dapat tahu diri sehingga agar dapat menempatkan diri.

Kemudian mampu membawa diri kita kepada tujuan sebagai manusia, hal tersebut adalah tata nilai dalam islam, mempunyai akhlak yang baik atau disebut dengan akhlaqul karimah.

3. Wani Ngalah dhuwur wekasane

Bait ketiga mempunyai makna ketika kita diminta untuk mengalah justru butuh sebuah keberanian. Biasanya orang yang berbicaara agar seseorang harus berani agar menang, namun ini tidak justru kita harus berani mengalah lebih dulu.

Ajaran islam sangat paham bahwa musuh paling besar manusia adalah ego dan dirinya sendiri. Mengalah bukan berarti kita kalah terhadap orang lain, mengalah merupakan kita menang dari hawa nafsu kita sendiri. Sehingga memang apa yang terdapat tembang macapat mijil bahwa untuk menang itu harus berani, berani menaklukan diri sendiri.

Namun yang dimaksud kalimat tersebut merupakan menang terhadap diri sendiri, mempunyai kendali terhadap diri kita sendiri. Kita dapat memimpin diri kita sendiri, itulah arti sebenarnya dari mengalah, hal ini memang sangat membutuhkan sebuah keberanian besar. Mempunyai sikap mengalah sesungguhnya akan meningkatkan derajat kita sebagai seorang muslim dimata Allah SWT.

4. Tumungkula yen dipun dukani

Secara harfiah bait tersebut memiliki arti jangan membantah bila kita dimarahi. Kita bisa dimarahi oleh orang lain, namun juga bisa oleh kehidupan, oleh alam dan diakhir perenungan tersebut dapat dimarahi oleh Sang Maha Pencipta.

Sebuah bencana baik kecil atau besar, menimpa diri pribadi atau umat merupakan sebuat teguran atau kemarahan alam kepada kita.

Kita pernah mengalami kegagalan, dan “tumungkul” memiliki arti “jangan membantah” yang dapat diartikan bahwa ketika dimarahai sebaiknya tidak membanth tidak melawan, tidak putus asa, pantang menyerah dan juga tidak saling menyalahkan.

Tidak membantah disini diartikan sebagai diam, mau merenungi, mau belajar dan mengakui kesalahan. Sebagai seorang muslim menjadi generasi pembelajari sejati tersebut menjadi suatu hal yang wajib dilakukan.

5. Bapang den simpangi

Bapang merupakan nama sebuah gubahan tarian yang dapat dikonotasikan sebagai bentuk hura-hura. Bait ini dapat diartikan agar manusia sebaiknya menghindari hal-hal yang mempunyai sifat hura-hura.
Karena konotasi bapang dapat diperluas kepada suatu yang hanya tampak indah dan dipermukaan namun dalamnya rapuh.

Mungkin hal tersebut dapat dijabarkan kepada sikap-sikap pargmatis, yang menuhankan eksistensi dan pencitraan diri semata, sifat suka dipuji, senang jika orang lain mengagunggkan. Baiknya untuk menghindari hal demikian.
Dalam islam juga telah disebutkan dengan memiliki sikap qonaah, sederhana dan tidak boleh berlebih-lebihan.

6. Ono catur mungkur

Pada bait terakhir tersebut terdapat makna harfiah untuk menghindari pergunjingan. Pergunjingan biasanya selalu berawal dari prasangka buruk.

Kalimat tersebut merupakan sebuah inspirasi, terlebih kita terlalu menanggapi prasangka buruk terhadap kita, sebaiknya justru kita lebih fokus pada apa yang baik dikerjakan dalam memberi manfaat.

Teruslah bekerja jangan berharap pada negara. Pernyaataan tersebut mungkin adalah seri otokritik untuk Indonesia saat ini, pertengkaran yang mungkin memang sebaiknya dihindari. Dalam Agama Islam sendiri dijelaskan bahwa hukum bergunjing, ghibah, itu diharamkan.

Terdapat beberapa intisari yang dapat diambil dari filosofi dari tembang macapat mijil dalam masyarakat Jawa, ialah tentang etika sangat jelas tercermin disetiap baitnya, baik bait pertama hingga terkahir. Makna selanjutnya ialah makna tentang dakwah yang terselip disetiap baitnya.

Selain itu tentunya karya tersebut dibuat oleh seorang muslim, karena nilai-nilai dan pesanya sangat mengandung islami, menjelaskan tentang makna persaudaraan, makna kesederhanaan hidup, makna santun, makna anti perpecahan, simbol tentang kekuatan yang wajib dimiliki agar dapat bermanfaat bagi kehidupan dan masih banyak sekali nilai-nilai dakwah yang terdapat tembang macapat mijil tersebut.

Tembang Macapat Maskumambang

Tembang Macapat Maskumambang

babydozewombsound.com

Maskumambang berasal dari sebuah kata mas dan kumambang. Mas atau emas yang memiliki makna berarti suatu yang begitu berharga. Bahwa, meskipun anak masih didalam kandungan merupakan sebuah harta yang tidak ternilai.

Mambang atau kemamambang ialah memiliki arti mengambang. Jadi maskumambang menggambarkan seorang bayi yang hidup mengambang didalam rahim ibunya. Selama kurang lebih 9 bulan tumbuh dan hidup didalam dunia ibunya yaitu rahim.

Kata mas masih belum diketahui maksud dari artinya merupakan laki-laki atau perempuan dan kata kumambang artinya hidup yang masih mengambang atau bergantung di alam kandungan sang ibu.

Watak Tembang Macapat Maskumambang

Terdapat watak dan sifat rasa atau karakter yang menggambarkan belas kasihan (welas asih), dan kesusahan. Tembang maskumambang pada umumnya digunakan untuk lagu-lagu tentang suatu duka yang penuh kasih.

Aturan Tembang Macapat Maskumambang

Guru Gatra = 4
Artinya terdapat 4 larik atau baris kalimat

Guru Wilangan = 12, 6, 8, 8
Artinya pada kalimat pertama terdapat 12 jumlah suku kata, kalimat kedua berjumlah 6 suku kata, kalimat ketiga terdapat 8 suku kata, dan kalimat keempat terdapat 8 suku kata.

Contoh Tembang Macapat Maskumambang (12i – 6a – 8i – 8o)

Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi (12i)
Enggal tulungana (6a)
Awakku kecemplung warih (8i)
Gulagepan wus meh pejah (8o)

Pengertian dari lirik diatas adalah tentang seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan karena terhanyut di sungai dan sudah hampir mati tenggelam.

Dhuh anak mas sira wajib angurmati
Marang yayah rena
Aja pisan kumawani
Anyenyamah gawe susah

Pengertian dari lirik diatas merupakan sebuah pesan kepada anak-anak yang semestinya bisa menghormati orang tua. Jangan sampai seorang anak berani menantang apalagi membantah orang tua karena akan berakibat sangat buruk pada dirinya sendiri.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Pengertian isi lirik diatas merupakan sebuah penggambaran tentang akibat seseorang yang tidak patuh terhadap orang tua. Seorang anak durhaka akan hidup sengsara baik di dunia maupun di akhirat nanti.

 

Tembang Macapat Megatruh

Tembang Macapat Megatruh

kabarmakkah.com

Megatruh merupakan penggabungan dari dua kata yaitu megat dan ruh, yang mana arti dari megat adalah berpisah maka arti dari megatruh adalah terpisahnya nyawa atauh ruh dari jasad.

Terlepasnya ruh merupakan proses dari menuju keabadian, entah itu di surga atau di neraka tergantung dari amal perbuatan kita di dunia.

Pujangga WS Rendra pada saat bulan purnama ditengah malam bulan Sya’ban tepatnya pada tanggal 6 Agustus atau tanggal 15 Sya’ban.

Saat menjelang Sakratul Maut tepat diatas ranjang kematiannya dia bersyair:

“Aku ingin kembali pada jalan alam”
“Aku ingin meningkatkan pengabdian pada Allah”
“Tuhan aku cinta pada-Mu”

Seperti firman Allah SWT:
“Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut”, artinya “Setiap Jiwa Pasti Akan Mati”.
“Kullu Man Alaiha Faan”, artinya “Setiap Manusia Pasti Binasa”.

Apakah kita akan menjumpai kematian yang indah Husnul Khotimah atau bahkan sebaliknya.

Watak Tembang Macapat Megatruh

Karakter dan waktak yang terdapat pada Tembang Macapat megatruh adalah menggambarkan tentang kesedihan dan duka cita. Biasanya untuk menggambarkan rasa putus asa dan kehilang harapan.

Aturan Tembang Macapat Megatruh.

Guru Gatra = 5
Artinya terdapat 5 larik atau baris dalam kalimatnya

Guru Wilangan = 12, 8, 8, 8, 8
Artinya pada baris pertama terdiri dari 12 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan begitu seterusnya.

Guru Lagu = u, i, u, i, o
Artinya pada baris pertama terdapat akhiran dengan huruf vokal u, baris kedua terdapat huruf vokal i, dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong

Sigra milir kang gèthèk sinangga bajul
Kawan dasa kang njagèni
Ing ngarsa miwah ing pungkur
Tanapi ing kanan kéring
Kang gèthèk lampahnya alon
(Babad Tanah Jawi, Yasadipura)

 

Tembang Macapat Durma

Tembang Macapat Durma

plus.google.com

Durma merupakan menceritakan tentang sifat-sifat buruk. Menurut beberapa kalangan menafsirkan bahwa durma sebagai munduring tata krama atau dalam bahasa Indonesia berarti mundurnya etika.

Namun ada beberapa yang berpendapat berasal dari kata Derma yang memiliki arti suka berbagi rejeki pada orang lain.

Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah maka kita sesama mahluk hidup harus saling berderma. Durma berasal dari kata (sedekah) berbagi kepada sesama.

Dengan berderma meningkatkan empati sosial kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan rasa peduli terhadap kondisi lingkungan masyarakat sekitar.

Watak Tembang Macapat Durma

Tembang macapat durma pada umumnya digunakan untuk menggambarkan sifat amarah, berontak dan juga semangat berperang. Menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk, egois dan selalu ingin menang sendiri.

Aturan Tembang Macapat Durma

Guru Gatra = 7
Artinya terdapat 7 larik atau baris kalimat

Guru Wilangan = 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7
Artinya pada baris pertama terdapat 12 suku kata, baris kedua terdapat 7 suku kata dan begitu seterusnya.

Guru lagu = a, i, a, a, i, a, i
Artinya baris pertama berakhiran dengan huruf vokal a, baris kedua berakhiran dengan huruf vokal i dan begitu seterusnya.

Contoh Tembang Macapat Durma (12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i)

Lamon dika epasrae panggabayan
Ampon mare apeker
Terang ka’eko’na
Ad janji maranta’a
Pon pon brinto tarongguwi
Anggap tanggungan
Ma’ ta’ malo da’ oreng
(Asmoro, 1950 ; 19)

Artinya:
(Jika kamu mendapat beban pekerjaan, sudah selesai dipikir, tentang seluk-beluknya kerja, usaha untuk menyelesaikan, jika demikian haruslah serius, bekerja dengan penuh tanggung jawab, agar tidak mengecewakan orang).

Mundur kang dadi tata krama
(Mundur (menjauhi) dari etika)
Dur iku duratmoko duroko dursila
(Dur, itu pencuri, penjahat tak beretika)
Dur iku durmogati dursosono duryudono
(Dur, seperti Durmogati, Dursasana, Duryudana)
Dur udur tan mampu nimbang rasa
(Dur, mau menang sendiri, tak menimbang rasa)
Dur udur paribasan pari kena
(Dur, perumpamaan sekenanya)
Maknane nglaras rasa jroning durma
(Itu perumpamaan Durma)
Sinom dhandanggula kang sinedya
(Remaja dalam mimpi-mimpi indah)
Lali purwaduksina kelon asmaradana
(Lupa segalanya berpeluk asmara)
Lali wangsiting ibu lan rama
(Lupa pesan Ibu Bapaknya)
Mangkono werdine gambuh durma
(Seperti perumpamaan Gambuh dan Durma)
Amelet wong enom ing ngarcapada
(Yang selalu memikat semua kaum remaja dalam kehidupan di muka bumi)
Pan mangkono
(Seperti itu)
Jarwane paribasan parikena
(Maksud pengertian sekenanya)

Tembang macapat hingga kini masih sangat populer baik di Sekolah maupun di kalangan umum. Bahkan disetiap sekolah tembang macapat dijadikan sebuah materi pelajaran khusus dalam mata pelajaran kesenian.

Hal tersebut merupakan suatu perkembangan yang sangat baik untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya.

2 Comments

  1. Yasinta Astuti October 26, 2016
  2. 33Bonnie May 15, 2017

Leave a Reply